Pengantar

PROGRAM DETASERING
Kurangnya perhatian pemerintah di masa lalu terhadap permasalahan ini mengakibatkan dosen senior banyak terkonsentrasi di beberapa PTN tertentu saja. Sementara itu, banyak PTN yang baru berdiri (begitu juga PTS) sangat membutuhkan dosen-dosen yang berkualitas open

Program Detasering
Rasional open

Detasering
Program detasering sejak tahun 2000 telah dilaksanakan dua kali yaitu pada tahun 2004 dan 2005, di enam Perguruan Tinggi Swasta yang berubah status kelembagaannya menjadi Perguruan Tinggi Negeri yaitu Universitas Sultan Agung Tirtayasa di Banten, Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe Nangroe Aceh Darussalam, Universitas Khairun di Ternate, Universitas Papua di Manokwari Papua serta Politeknik Perikanan Tual di Tual. Selain di enam perguruan tinggi tersebut pada tahun 2005 program detasering ini dilaksanakan juga di Universitas Syiah Kuala Nangroe Aceh Darussalam, karena di penghujung tahun 2004 di wilayah Nangroe Aceh Darussalam terjadi tsunami sehingga menyebabkan Unsyiah kena dampaknya banyak kehilangan tenaga dosen.
Evaluasi dan monitoring pelaksanaan program detasering telah dilakukan oleh Tim Detasering Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan para pimpinan Perguruan Tinggi Sasaran (PERTISAS).
Dari evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa program detasering perlu dilanjutkan karena telah banyak membantu dan positif dalam upaya pembinaan dan pengembangan Perguruan Tinggi Negeri (baru). Berkenaan dengan hal tersebut pada tahun 2006 program detasering kembali akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk membantu pengembangan kelembagaan (capacity building) dalam upaya memenuhi perubahan kebutuhan masyarakat yang sangat cepat dan makin kompetitif. Panduan